Butiran butiran embun pagi hari itu
Menghiasi kuncup bunga yang tersenyum malu
Satu per satu menghilang menguap oleh hangat mentari pagi itu
Satu lagi menghias, dari tetes air matamu saat aku berdiri di sampingmu
Berlahan wajahmu menyambut tatapanku
Seuntai air kembali menetes di bunga itu
Saat lesung pipi menghias wajahmu
Tak dapat lagi menampung tetesan air itu
Telapak tangan kasarku berlahan membeku
dalam genggam jemarimu yang begitu lembut itu
Kuulurkan tangan untuk mengerti bentuk rasa itu
Tanda ku ingin berbagi dengan dirimu
Ada bola salju meluncur dengan derasnya
Tubuhku pun menggigil seketika
Kini aku baru mengerti ternyata air mata itu
uap dari bola salju yang meluncur di bola matamu
Namun kulihat, tubuhmu tak menggigil seperti tubuhku
Betapa  anggun kamu menahan dingin di hidupmu
Begitu redah daya tahanku di hadapanmu
Hingga aku hanya mampu mengedipkan mata padamu
Dengan perlahan genggaman jemariku
Ku lepaskan dari jari tangan itu
Ku satukan tubuh dalam dekapmu
Berharap ku dapat rasakan kehangatanmu
Namun perlahan kau berbalik dan berjalan pergi
Sutera putih melambai dihembus angin pagi
Dedaunan dan warna warni bunga menari sepi
Aku hanya diam merangkai harap masih ada keindahan esok hari
Share this: kumpulan puisi cinta
Like this:
Be the first to like this post.